MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Sejumlah Perusahaan Otobus (PO) bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) memilih menggunakan area di luar Terminal Regional Daya (TRD) sebagai lokasi naik turun penumpang.

Kondisi Terminal Daya yang dinilai tidak kondusif menjadi alasan utama para operator bus besar enggan masuk ke dalam terminal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pantauan di lapangan menunjukkan Terminal Daya terlihat kumuh, kurang terawat, dan minim fasilitas pendukung. Penerangan yang terbatas, khususnya pada malam hari, serta tata kios yang semrawut membuat suasana terminal dinilai tidak nyaman, baik bagi penumpang maupun pengelola PO bus.

Situasi tersebut membuat sejumlah PO bus AKAP memilih alternatif lain, seperti membuka pool atau terminal sendiri di luar kawasan Terminal Daya. Langkah ini dianggap lebih efektif untuk menjamin kenyamanan penumpang, keamanan armada, serta kelancaran operasional.

Fajar Rahman, seorang pengelola PO bus AKAP di Jl Perintis Kemerdekaan mengungkapkan, keputusan tidak masuk ke Terminal Daya bukan tanpa alasan. Menurutnya, kondisi di dalam terminal jauh dari standar pelayanan transportasi umum.

“Terminalnya gelap, kurang aman, dan tidak tertata. Penumpang juga sering mengeluh. Kalau kami paksakan masuk, justru citra layanan PO kami yang dipertaruhkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain faktor kenyamanan, masalah keamanan dan ketertiban juga menjadi pertimbangan serius. Aktivitas yang tidak terkontrol di area terminal dinilai rawan menimbulkan gangguan terhadap operasional bus.

“Kami ini membawa penumpang lintas provinsi. Standarnya harus jelas. Kalau terminal tidak memberikan rasa aman dan nyaman, wajar kalau PO PO besar memilih membangun pool atau terminal sendiri,” tegasnya.

Sementara itu, Lukman, seorang pemerhati transportasi di Makassar menilai kondisi ini menjadi bukti lemahnya pengelolaan Terminal Daya. Menurutnya, terminal seharusnya menjadi simpul transportasi yang representatif, bukan justru ditinggalkan oleh penggunanya.

“Ketiadaan pembenahan serius membuat terminal kehilangan fungsi strategisnya. Dampaknya bukan hanya ke PO bus, tapi juga ke pendapatan daerah dan tata transportasi kota,” katanya.

Pemerintah kota didesak segera melakukan pembenahan menyeluruh terhadap Terminal Daya, baik dari sisi infrastruktur, keamanan, hingga manajemen pengelolaan.

Tanpa langkah konkret, Terminal Daya dikhawatirkan akan semakin ditinggalkan dan kalah bersaing dengan terminal atau pool mandiri milik PO bus.  (drw)