SIDRAP, UJUNGJARI.COM –Keberhasilan Sidrap menekan angka kemiskinan hingga 4,91 persen bukan sekadar angka statistik.
Pencapaian ini mencerminkan pergeseran paradigma pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sidrap dibawah kepemimpinan H.Syaharuddin Alrif dan Nurkanaah : dari pendekatan bantuan sosial semata, menuju penguatan sektor produktif berbasis potensi lokal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai daerah yang dikenal sebagai lumbung beras Sulawesi Selatan, Sidrap memanfaatkan keunggulan komparatifnya secara maksimal.
Total lahan sawah produktif seluas sekitar 58 ribu hektare menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Kebijakan Pemkab Sidrap diarahkan agar lahan tersebut tidak hanya produktif, tetapi juga menghasilkan pendapatan yang layak dan berkelanjutan bagi petani.
Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif menegaskan bahwa kemiskinan di daerah agraris hanya bisa ditekan jika petani ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek program.
“Kalau petani sejahtera, daya beli naik, ekonomi bergerak, dan kemiskinan bisa ditekan. Itu kunci pembangunan Sidrap,” tegas Syahar.
Salah satu kebijakan paling menentukan adalah target tiga kali panen dalam setahun.
Dengan asumsi satu hektare lahan mampu menghasilkan Rp40 juta bersih sekali panen, maka petani berpotensi meraih Rp120 juta per tahun, atau sekitar Rp10 juta per bulan.
Angka ini secara langsung:
- Mengangkat petani dari garis kemiskinan,
- Menciptakan kelas menengah baru di pedesaan,
- Mengubah citra pertanian sebagai sektor yang menjanjikan masa depan.
Pemkab Sidrap memperkuat kebijakan ini melalui:
- Percepatan distribusi pupuk subsidi,
- Perbaikan dan normalisasi jaringan irigasi,
- Pendampingan teknis dan manajemen tanam,
- Kolaborasi dengan TNI, penyuluh, dan kelompok tani.
Langkah ini sejalan dengan tantangan yang diberikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, yang mendorong daerah-daerah sentra pangan untuk meningkatkan indeks pertanaman sebagai bagian dari program swasembada pangan nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Pemkab Sidrap juga menyadari bahwa kemiskinan tidak bisa ditekan tanpa regenerasi petani.
Karena itu, Syaharuddin Alrif secara konsisten mendorong anak muda terjun ke sektor pertanian dengan pendekatan modern dan rasional.
“Kita ingin mengubah stigma. Petani itu bukan pekerjaan miskin. Kalau dikelola dengan baik, pendapatannya bisa lebih tinggi dari banyak profesi lain,” ujar politisi NasDem tersebut.
Upaya ini dinilai strategis karena:
- Mencegah urbanisasi berlebihan,
- Menekan pengangguran usia produktif,
- Menjamin keberlanjutan sektor pangan daerah.
Hasil dari strategi tersebut mulai terlihat nyata. Dalam kurun satu tahun kepemimpinan Syaharuddin Alrif, Sidrap mampu menempatkan diri sebagai:
- Kabupaten dengan angka kemiskinan terendah ketiga di Sulsel,
- Lebih baik dibanding banyak daerah perkotaan dan pesisir,
- Menjadi model pembangunan berbasis pertanian produktif.
Capaian ini sekaligus membuktikan bahwa pengentasan kemiskinan tidak selalu harus bertumpu pada industrialisasi, tetapi bisa dicapai melalui optimalisasi sektor primer yang dikelola secara modern dan berpihak pada rakyat.
Ke depan, Pemkab Sidrap menargetkan posisi strategis sebagai lumbung beras, telur, dan jagung kawasan Timur Indonesia.
Target ini bukan hanya ambisi ekonomi, tetapi juga bagian dari kontribusi Sidrap terhadap ketahanan pangan nasional.
Dengan tren penurunan kemiskinan yang konsisten, Sidrap kini tidak hanya berbicara soal angka, tetapi tentang perubahan struktur ekonomi masyarakat — dari bertahan hidup, menuju hidup yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Keberhasilan Kabupaten Sidrap menurunkan angka kemiskinan menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang fokus, kebijakan yang tepat sasaran, dan keberpihakan pada sektor produktif rakyat mampu menghasilkan perubahan nyata.
Sidrap hari ini bukan hanya daerah penghasil beras, tetapi juga contoh bagaimana pertanian dapat menjadi jalan keluar dari kemiskinan. (Ady)

