SOPPENG, UJUNGJARI.COM – Demam Piala Dunia 2026 tak hanya menghadirkan keseruan di depan layar kaca, tetapi juga memicu gelombang kreativitas masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Soppeng.

Sejumlah warung kopi, kafe, hingga lingkungan permukiman disulap menjadi ruang bernuansa sepak bola yang meriah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pantauan Ujungjari.com di berbagai sudut kota hingga pelosok desa menunjukkan antusiasme warga menyambut pesta sepak bola terbesar di dunia itu begitu tinggi.

Beragam atribut khas Piala Dunia menghiasi tempat usaha dan lingkungan warga, mulai dari bendera negara peserta, mural bertema sepak bola, hingga ornamen unik yang menarik perhatian.

Salah satu lokasi yang paling mencuri perhatian adalah Warkop Camidu di Jalan Kesatria.

Warkop yang sebelumnya tampil sederhana itu kini berubah layaknya mini stadion berkat sentuhan kreatif pengelolanya.

Sebanyak 48 bendera negara peserta Piala Dunia dipasang mengelilingi area warkop, menciptakan suasana berbeda bagi para pengunjung.

Atmosfer semakin terasa saat pertandingan berlangsung. Sorak sorai penonton yang menyaksikan laga melalui layar lebar berpadu dengan kibaran bendera, menghadirkan pengalaman menonton yang lebih hidup dan berkesan.

“Pengunjung jadi lebih betah. Mereka datang bukan hanya untuk nonton pertandingan, tetapi juga menikmati suasana yang berbeda. Alhamdulillah, kunjungan meningkat selama Piala Dunia berlangsung,” ujar pemilik Warkop Camidu, Bang Ancy.

Fenomena serupa juga terlihat di sejumlah tempat usaha lainnya. Banyak pelaku UMKM ikut menghias lokasi usahanya dengan tema sepak bola untuk menarik pelanggan. Bahkan, di beberapa lingkungan permukiman, warga memasang bendera negara peserta di depan rumah, membuat jalanan tampak semarak bak kawasan penyelenggara turnamen.

Tak hanya dekorasi, semangat Piala Dunia juga tercermin dari gaya berpakaian masyarakat. Jersey tim nasional favorit seperti Argentina, Brasil, Jepang, Prancis, hingga Jerman banyak dikenakan warga, mulai dari pelajar, pedagang, hingga pejabat daerah.

Euforia ini menunjukkan bahwa sepak bola memiliki kekuatan besar sebagai pemersatu masyarakat. Perbedaan profesi, usia, maupun status sosial seolah melebur dalam satu kegembiraan bersama saat mendukung tim kesayangan.

Bagi para pelaku UMKM, momentum Piala Dunia 2026 menjadi berkah tersendiri. Hiasan bernuansa sepak bola dan penyelenggaraan nonton bareng terbukti mampu meningkatkan jumlah pengunjung, sekaligus mendongkrak penjualan makanan, minuman, dan berbagai produk usaha lainnya.

Di Soppeng, Piala Dunia bukan sekadar tontonan. Ajang empat tahunan itu telah menjelma menjadi pesta rakyat yang menggerakkan kreativitas, mempererat kebersamaan, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.  (Daus)