PINRANG, UJUNGJARI – Ruang Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kelurahan Lampa, Kabupaten Pinrang, kini tampil dengan wajah baru berkat sentuhan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi 2026 Universitas Hasanuddin. Rak-rak buku yang sebelumnya tersusun seadanya kini tertata rapi, area baca lesehan hadir untuk menambah kenyamanan pengunjung, sementara seluruh ruangan ditata lebih menarik dengan memanfaatkan fasilitas yang telah tersedia.

Transformasi tersebut menjadi salah satu capaian penting mahasiswa selama menjalankan pengabdian di Kelurahan Lampa. Pembenahan dilakukan bukan sekadar mempercantik ruangan, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi TBM sebagai ruang belajar dan pusat literasi masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Program ini merupakan bagian dari KKN Tematik Literasi 2026, hasil kolaborasi antara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI), serta Universitas Hasanuddin. Melalui program tersebut, mahasiswa diterjunkan ke berbagai desa dan kelurahan untuk memperkuat ekosistem literasi, salah satunya melalui optimalisasi Taman Bacaan Masyarakat yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Saat pertama kali melakukan observasi di TBM Kelurahan Lampa, mahasiswa menemukan bahwa bantuan buku dari Perpusnas RI sebenarnya telah tersedia dalam jumlah yang cukup banyak. Namun, sebagian besar koleksi masih tersimpan dalam bungkus plastik asli sejak pertama kali diterima. Penataan buku juga belum mengikuti sistem tertentu sehingga menyulitkan pengunjung dalam mencari bahan bacaan sesuai kebutuhan.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN menyusun langkah pembenahan secara bertahap. Seluruh buku dibuka dari kemasan, diperiksa kondisi fisiknya, kemudian diinventarisasi berdasarkan judul, jumlah, dan kategori. Selanjutnya, koleksi buku dikelompokkan menurut jenjang pembaca, yakni Jenjang A, B, C, D, dan E, sehingga anak-anak, remaja, maupun masyarakat umum dapat lebih mudah menemukan bacaan yang sesuai.
Selain penataan koleksi, mahasiswa juga melakukan pembenahan ruang baca dengan membersihkan ruangan, mengatur ulang posisi rak, serta menghadirkan area baca lesehan yang nyaman tanpa membutuhkan anggaran tambahan. Seluruh penataan dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas dan perlengkapan yang telah tersedia di lokasi.

Hingga saat ini, dua capaian utama telah berhasil diwujudkan, yakni tertatanya ruang TBM menjadi lebih nyaman dan representatif serta selesainya proses inventarisasi seluruh koleksi buku bantuan Perpusnas berdasarkan jenjang pembaca. Tahap berikutnya adalah mengaktifkan pemanfaatan TBM melalui kegiatan membaca rutin yang melibatkan anak-anak dan masyarakat setempat.
Kegiatan di Kelurahan Lampa menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan literasi nasional dapat diwujudkan hingga ke tingkat desa. Bantuan buku dari pemerintah pusat akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila didukung pengelolaan yang baik di tingkat lokal. Dalam konteks tersebut, mahasiswa KKN berperan sebagai penghubung antara kebijakan nasional dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Keberlanjutan pengelolaan TBM setelah masa KKN berakhir menjadi tantangan berikutnya. Dukungan dari pemerintah daerah, pegiat literasi, komunitas baca, hingga para donatur diharapkan dapat memastikan TBM Kelurahan Lampa terus aktif dimanfaatkan masyarakat. Model pembenahan yang dilakukan mahasiswa juga dapat direplikasi di TBM lain yang menghadapi kondisi serupa.
Dengan demikian, semangat literasi yang dibangun melalui KKN Tematik Literasi 2026 tidak berhenti saat masa pengabdian mahasiswa selesai, tetapi terus tumbuh menjadi budaya membaca yang berkelanjutan di tengah masyarakat.