GOWA, UJUNGJARI.COM — Seketika mendengar informasi ada warga berpenghidupan miris di Dusun Tabbuakkang, Desa Katangka, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa membuat Wakil Ketua II DPRD Gowa Zulkifli AT terketuk hati menyambangi.
Keluarga Dg Nappa (50), yang hidup menderita di gubuk kecil berdinding plastik bekas ini, selama 8 tahun menopang hidup serba kekurangan. Penghasilannya yang tidak cukup sebagai tukang ojek motor di kampung harus menafkahi seorang istrinya Fatmawati Dg Te’ne (40) dan lima orang anaknya yang masih kecil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari lima orang anak, dua diantaranya bersekolah di bangku SD dan kini duduk di kelas 5. Selama delapan tahun, Dg Nappa bertahan dengan hidup seadanya. Lahan rumah pun sama sekali tidak punya.
Gubuk yang dihuninya itu berdiri di atas lahan keluarganya yang berbaik hati memberinya izin tinggal disitu.
Wakil Ketua II DPRD Gowa Zulkifli AT bertandang di rumah Dg Nappa, Jumat (21/2/2020) pukul 10.00 Wita. Legislator Partai Demokrat ini datang membawa kebutuhan pokok (sembako), makanan ringan, kebutuhan sanitasi (alat mandi) dan lainnya. Zulkifli juga berencana membuatkan jamban atau water closed (WC) bagi Dg Nappa.
” Iya kami sudah bertemu Dg Nappa dan langsung ke rumah beliau di Tabbuakkang. Sangat memprihatinkan memang kondisinya. Sebuah gubuk berdinding plastik dan didalamnya hidup istri dan lima anaknya,” kata Zulkifli kepada ujungjari.com.
Dikatakan Zulkifli, satu kesulitannya mencarikan solusi untuk hunian yang layak yakni agar bisa dilakukan bedah rumah untuk kediaman Dg Nappa lantaran Dg Nappa hanya menumpang lahan tempat tinggal pada seorang warga yang masih keluarganya.
“Rencananya kita mau bantu untuk bedah rumah namun ternyata lahan yang ditempati ini bukan hak milik Dg Nappa. Tapi alhamdulillah setelah saya berkomunikasi dengan Dg Ngewa selaku pemilik tanah, beliau mau memberikan ijin meski lahan itu tetap bukan atas nama Dg Nappa. Dan alhamdulillah juga Dg Nappa setuju. Jadi untuk tahap pertama sebelum kita upayakan bedah rumah, kita akan bangunkan dulu jamban atau WC sebab ini sangat penting. Apalagi anak-anak Dg Nappa sering sakit-sakitan disebabkan jambannya tidak jelas,” terang Zulkifli.
Sementara itu, Dg Nappa bersama istrinya, terlihat sangat haru menerima bantuan sembako dan akan dibedah rumah dan dibuatkan jamban.
” Alhamdulillah Pak, terima kasih banyak kodong. Saya bersyukur kepada Allah Ta’ala, atas bantuan ta Pak,” kata Dg Nappa.

Sangat ironis, tiba-tiba kehidupan miris Dg Nappa ini jadi viral di medsos setelah diposting melalui akun seorang warga bernama Ikka.
Dalam postingannya itu, Ikka menuliskan rintihan memelas Dg Nappa meminta beras satu liter beras kepada seorang pemuda tetangganya disebabkan anak-anaknya sudah dua hari tidak makan.
” Daeng bisaka minta pinjam beras ta’ 1 liter, dua harimi kodong tidak makan anak-anak ku,” begitu ungkapan Dg Nappa dituliskan Ikka di akun facebooknya.
Daeng Nappa tulis Ikka tinggal bersama istri dan lima anaknya dalam gubuk berdinding plastik dan beratap seng bekas yang berukuran 3×2 meter. Karena bekas maka atap bocor dimana-mana dan sering kebanjiran setinggi tempat tidur mereka.
Seorang anak Dg Nappa memiliki keterbatasan fisik. Sehari-hari Daeng Nappa meminjam motor tua milik iparnya untuk dipakai mengojek dan disewa 10 ribu per hari. Penghasil kecil yang diperolehnya setiap hari itulah yang bisa membuat keluarga Dg Nappa bertahan hidup. Namun penghasilan yang diperoleh setiap hari tidak tetap. Kadang ada, kadang sedikit dan kadang tidak ada sama sekali. (sari)

