GOWA, UJUNGJARI.COM — Termotivasi dengan faedah besar yang ada dalam kandungan tanaman kelor, akhirnya warga Kecamatan Biringbulu ini pun mulai menjalankan rencana yang diidam-idamkannya sejak dulu. Ilham Ahmad, namanya. Ayah dua anak berusia 38 tahun ini punya obsesi ingin membuat kopi kelor.
Suami dari Basmiati ini punya impian besar dalam mengangkat harkat dan martabat kampung halamannya yang jauh terletak di dataran tinggi Kabupaten Gowa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika tanaman kelor ramai diposting di medsos dan melihat sejumlah artikel tentang manfaat tanaman yang lebih banyak dikonsumsi masyarakat sebagai sayuran ini, Ilham pun tergoda untuk lebih jauh mengenali kelor.

Ilham seorang sarjana peternakan. Namun terlahir sebagai anak petani, Ilham pun tak canggung untuk menjadi petani. Awalnya, pria yang suka berkeliling medan terjal mengendarai motor trail ini, melakukan budidaya ternak kambing, sapi dan ayam, namun sebagai insan yang suka tantangan ini akhirnya menyalurkan bakat taninya dengan mengembangkan tanaman kelor.
Diakuinya, alasan dia mengembangkan tanaman kelor karena selain sebagai bahan sayuran, kelor ternyata punya manfaat besar bagi kesehatan tubuh dan bahkan punya nilai ekspor sebagai bahan baku kosmetik (masker), campuran kosmetik, teh daun kelor, obat herbal, kapsul herbal dan lainnya.
Akhirnya dengan modal kemauan yang tinggi, Ilham mencoba membibitkan tanaman kelor yang banyak tumbuh subur di sekitaran rumahnya.
Dari semula hanya menggunakan halaman rumahnya yang lumayan luas, akhirnya kini dia sudah kembangkan di atas lahan seluas 1,5 hektare.
Di kampungnya yang sejuk yang merupakan daerah pegunungan yakni di Dusun Sanrangan, Desa Berutallasa, Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa, Ilham sudah menanam sekitar 10.000 batang.
Sementara yang sudah dipindahkan dari pembibitan sekitar 600 batang dan juga sdh ditanamnya. Dan masih ada 5.000 bibit lagi masih dalam polybag.
” Untuk mengembangkan kelor ini, saya dibantu lima orang yang masih keluarga saya,” kata Ilham.
Menurut dia, tanaman kelor di daerahnya ini sebenarnya sudah lama ada sejak nenek leluhurnya. Dia pun bersyukur karena tanah di Biringbulu sangat subur sehingga tanaman kelor pun tumbuh dimana-mana namun belum tertata.
Tanaman kelor di kampung ini kata dia tumbuh subur, namun masyarakat masih sebatas konsumsi sehari-hari untuk sayur.
Tapi setelah lebih banyak mengetahui manfaat kelor ini akhirnya Ilham terinspirasi untuk pengembangan.
” Saya baru mulai tahun ini dan lumayan subur karena baru beberapa bulan saya bibitkan, tanamannya sudha tumbuh dan perlahan mulai meninggi. Saya pun mulai mengembangkannya dengan skala banyak. Saya memulainya dengan cara pembibitan, bukan dengan stek batang. Soalnya potensi tumbuhnya sangat cepat dan referensi daya produksinya bisa sampai 60-70 tahun bila dibanding dengan stek hanya bisa 20-30 tahun,” ulas Ilham.
Sasaran jualnya kata dia adalah dengan mengolah hasil daun menjadi bubuk kelor dengan cara tertentu agar dapat menghasilkan bubuk daun kelor yang berkualitas dan daya saing ekspor.
Untuk sementara budidaya ini kata Ilham dia kelola secara pribadi namun tetap melibatkan masyarakat sekitar dalam hal mengedukasi semoga masyarakat juga dapat mengembangkan tanaman kelor dan menjadikan Biringbulu sebagai sentra pengembangan kelor.
” Terus terang mengembangkan kelor ini karena termotivasi terhadap nilai komersialnya yang bisa memberikan nilai tambah, bahkan paling tidak sebagai mata pencaharian yang utama untuk masyarakat nantinya. Apalagi saat ini Pemerintah Kabupaten Gowa memang memprogramkan pengentasan stunting (kekerdilan pertumbuhan manusia) dengan banyak mengkonsumsi kelor sehingga saya pikir dengan cara saya ini bisa turut mendukung program pemerintah tersebut. Yang jelas pikiran saya dengan mengembangkan kelor ini akan menjadi nilai tambah bagi masyarakat disini,” ungkap Ilham.
Salah satu kesyukurannya karena selama melakukan pembibitan, sudah banyak pula penikmat tanaman kelor yang memesan bibitnya (dibeli) melalui medsos.
Dijelaskannya, pengembangan kelor bukan hanya bertumpuh pada daun kelor saja, tapi nilai ekonominya juga ada pada bunga, buah muda dan biji kelor, bahkan di manca negara minyak biji kelor itu sangat bernilai ekonomi yang sangat fantastis dalam perliternya bisa dibandrol hingga Rp 2 juta per liternya.
Untuk menghasilkan minyak biji kelor 1 liter, dibutuhkan sekitar 7-8 Kg biji kelor. Sementara tepung daun kelor sekarang nilai ekonominya sekitar Rp 250 ribu per Kg (bubuk). Semakin halus bubuknya maka semakin mahal (dalam bentuk debu).
” Alhamdulilah saya banyak mendapat dukungan dari istri saya, Basmiati dan ini demi masa depan kedua anak saya Aqila Az-zahrah Ilham (6) dan Mikaila Az-zahrah Ilham (5),” katanya.

Obsesi Ilham untuk menjadi pengusaha kelor pun disepadankan dengan obsesinya di peternakan. Ilham telah lama membudidaya kambing dan sudah dikerjasamakan dengan masyarakat setemlat dengan sistem bagi hasil. Sementara teenak ayamnya pun mulai meningkat seiring berkembang biaknya empat ekor yang dimilikinya. Sapi yang dimilikinya yakni dua ekor jenis Brahman dan dua ekor lagi jenis Simental-Brahman.
” Alhamdulillah, sudah ada yang minta Rp 15 juta padahal masih umur jalan lima bulan (jantan),” tambahnya.-

