MAKASSAR,UJUNGJARI.COM–Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulsel terus mengusut praktik joki penerimaan bintara Polri. Puluhan anggota polisi sudah menjalani pemeriksaan. Tidak saja yang terlibat dalam pengawasan ujian akademik, tetapi juga petugas di bidang kesehatan.
Kepala Bidang Propam Polda Sulsel, Kombes Sulham Efendy mengaku sudah memeriksa puluhan panita. Pihaknya juga sudah mendiskualifikasi sejumlah calon siswa (casis) bintara yang menjadi jaringan praktik joki ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hanya saja tidak semua casis yang didiskualifasi terlibat praktik joki. Wilda, salah seorang casis yang didiskualifikasi tidak menerima keputusan panitia. Ia bersikers dirinya tidak terlibat dalam jaringan.
“Saya dipaksa menandatangani berita acara seolah-olah saya terlibat. Saya terpaksa menandatangani itu karena diancam sama petugas,” katanya.
Karena tidak menerima perlakuan panitia, Wilda kini mengalami depresi. Beberapa hari ini ia bahkan menjalani perawatan di salah satu klinik di Kabupaten Pangkep. Bahkan menurut ibunya, Wilda pernah mau bunuh diri karena tidak menerima keputusan panitia.
Kasus salah diskualifikasi ini juga sudah dilaporkan ibu Wilda ke anggota Komisi III DPR RI, Rudianto Lallo. Orang tua Wilda datang menemui anggota DPR RI dari Partai Nasdem itu di posko apirasi di Jl AP Pettarani beberapa hari lalu.
“Mudah-mudahan ada atensi dari Komisi III DPR RI agar anak saya diberi kesempatan untuk melanjutakan tahapan seleksi. Anak saya buka jaringan joki itu,” kata ibunda Wilda.
Seperti diberitakan sebelumnya praktik joki penerimaan bintara Polri di Polda Sulsel melibatkan puluhan aparat. Tidak hanya dari Polda Sulsel, tetapi juga aparat dari beberapa Polres di wilayah Sulsel.
Calon siswa yang dibantu membayar biaya tertentu kepada joki. Nilainya bervariasi. Mulai dari Rp5 juta hingga Rp10 juta.
Selain tes akademik, praktik bayar membayar juga ditengarai terjadi di tahapan seleksi lainnya. Termasuk di pemeriksaan kesehatan yang melibatkan tenaga medis di RS Bhayangkara. Bidang Propam Polda Sulsel terus melakukan pemeriksaan dalam mengusut kasus ini.


Komentar 1
Wehh Rudi kalo tulisko berita begini setidaknya sensor mukanya korban dan pake inisial nama untuk menjaga harga diri dan privacy korban!!!!! Korban sudah depresi jangan sampe tambah depresi gara” beritamu!!!!