MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Program penggunaan QRIS di Pasar Daya, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, yang dilaunching langsung oleh Wali Kota Makassar beberapa waktu lalu, dinilai hanya sebatas simbol dan slogan belaka. Pasalnya, layanan transaksi digital yang sempat digencarkan itu kini nyaris tak digunakan lagi.
Padahal, pada pekan pertama setelah peresmian, sejumlah pedagang sempat mencoba menerapkan pembayaran non-tunai melalui QRIS. Namun, penerapan tersebut hanya bertahan kurang lebih satu minggu. Setelah itu, aktivitas transaksi di Pasar Daya kembali berjalan secara manual menggunakan uang tunai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah pedagang mengaku lebih nyaman dengan transaksi konvensional karena dianggap lebih cepat serta tidak bergantung pada jaringan internet yang sering tidak stabil di area pasar.
“Awal-awal kami gunakan, tapi lama-lama kembali tunai saja. Kadang jaringan kurang bagus, pembeli juga masih banyak yang bayar cash,” ujar Syarif, salah satu pedagang.
Pengelola Pasar Daya juga dinilai kurang melakukan sosialisasi lanjutan ataupun pengawasan agar implementasi QRIS berjalan konsisten. Akibatnya, inovasi digital yang seharusnya mendukung efisiensi pelayanan dan transparansi justru mandek di tengah jalan.
Pengamat kebijakan publik menilai kegagalan ini menunjukkan minimnya tindak lanjut setelah launching. “Program digitalisasi pasar membutuhkan pendampingan, edukasi, serta komitmen pengelola agar tidak berhenti hanya pada seremoni peluncuran,” kata Muh Syakir.
Hingga kini, mayoritas pedagang dan pembeli di Pasar Daya kembali menggunakan uang tunai, sementara papan slogan penggunaan QRIS yang dipasang saat launching tetap terpajang tanpa diikuti praktik nyata di lapangan. (drw)

