TAKALAR, UJUNGJARI–Di balik hiruk pikuk pelayanan publik di Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, nama Bansuhari Said kerap disebut sebagai sosok birokrat yang bekerja dalam senyap namun berdampak nyata. Wanita kelahiran Takalar, 17 Juni 1975 ini, bukan tipe pemimpin yang gemar tampil di panggung besar. Ia memilih hadir di tengah warga—mendengar, mencatat, lalu bergerak.
Sebagai Camat Pattallassang, Bansuhari membawa pendekatan kepemimpinan yang responsif dan adaptif. Di era ketika jarak antara pemerintah dan masyarakat sering kali terasa lebar, ia justru membuka ruang komunikasi yang sederhana namun efektif. Lewat inisiatif “LAPOR BU CAMAT”, warga dapat menyampaikan keluhan dan aspirasi langsung melalui WhatsApp. Sebuah langkah kecil yang memberi pesan besar: pemerintah hadir dan mau mendengar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah tersebut bukan sekadar inovasi teknis, melainkan cerminan cara pandang Bansuhari terhadap birokrasi. Baginya, jabatan bukan sekadar struktur, melainkan amanah pelayanan. Gaya ini pula yang disebut-sebut terinspirasi dari kepemimpinan Bupati Takalar, yang menekankan kecepatan respons dan kedekatan dengan masyarakat.
Sebelum memimpin Pattallassang, Bansuhari Said lebih dulu mengasah pengalaman birokrasi sebagai Kepala Bidang di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Takalar. Di posisi itu, ia terlibat dalam perencanaan pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) modern di Beba, sebuah program yang diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi nelayan dan memperkuat sektor kelautan daerah.
Perjalanan pengabdian tentu tak selalu mulus. Bansuhari juga pernah menjadi sorotan publik saat kebijakannya di DKP diprotes oleh Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Takalar. Namun bagi Bansuari, kritik adalah bagian dari dinamika pemerintahan. Ia memaknainya sebagai pengingat bahwa setiap kebijakan harus terus dievaluasi dan disempurnakan.
Kini, di Pattallassang, ia membuktikan bahwa pengalaman—baik manis maupun pahit—adalah bekal penting dalam memimpin. Di tengah tantangan pembangunan kecamatan, mulai dari pelayanan administrasi hingga persoalan sosial masyarakat, Bansuhari memilih bekerja dengan pendekatan dialog dan keteladanan.
Sebagai putra daerah bersuku Makassar, ia memahami betul karakter dan kultur masyarakatnya. Prinsip sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi tak hanya menjadi jargon, tetapi tercermin dalam caranya berinteraksi dengan warga dan aparatur kecamatan.
Bansuhari Said mungkin bukan figur nasional yang kerap menghiasi layar kaca. Namun dari Pattallassang, ia menunjukkan bahwa perubahan sering kali lahir dari pemimpin lokal yang bekerja konsisten, rendah hati, dan dekat dengan rakyat. Dalam sunyi pengabdian itulah, kepercayaan publik perlahan dibangun—hari demi hari. (*)

