JAKARTA,UJUNGJARI.COM– Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, meluncurkan Program SAPA SEMESTA UMK Pangan Olahan (Sadar Pangan Aman–Sistematis, Ekosistem, Masif, Efektif, Sinergi, Terintegrasi, Aksesibel) sebagai strategi nasional memperkuat daya saing usaha mikro dan kecil (UMK) pangan olahan melalui pendampingan yang terintegrasi, kolaboratif, dan berbasis digital.

Peluncuran berlangsung di Aula Gedung Bhinneka Tunggal Ika, Kantor BPOM RI, Jakarta, Senin (27/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) RI Maman Abdurrahman, Rektor Universitas Padjadjaran Prof. dr. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, Sp.M(K)., M.Kes., Ph.D., Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman, jajaran kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku industri, UMK pangan olahan, serta para pemangku kepentingan lainnya.

Dalam kesempatan itu, BPOM dan Kementerian UMKM menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah di bidang obat bahan alam, kosmetik, dan pangan olahan.

Kolaborasi tersebut menjadi penguatan sinergi pemerintah dalam mendorong UMKM naik kelas sekaligus memperluas akses produk yang aman, bermutu, dan berdaya saing.

Taruna Ikrar mengatakan Program SAPA SEMESTA merupakan pengembangan dari program pemberdayaan UMK yang telah berjalan sebelumnya.

Melalui pendekatan Academia, Business, dan Government (ABG) yang dipadukan dengan digitalisasi, BPOM ingin menghadirkan sistem pendampingan yang lebih efektif, menjangkau lebih banyak pelaku usaha hingga ke berbagai daerah, sekaligus mempercepat proses pembinaan dan perizinan.

“Program ini bukan hanya membantu UMKM memperoleh izin edar, tetapi mendampingi mereka secara menyeluruh mulai dari pemenuhan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), sertifikasi sarana, registrasi produk, hingga penguatan kapasitas pasca-izin agar mampu menjaga keamanan, mutu, meningkatkan daya saing, dan memperluas akses pasar,” ujar Taruna Ikrar.

Menurut Taruna Ikrar, penguatan UMKM merupakan amanat langsung Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional dan motor penggerak target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen pada 2029.

Karena itu, BPOM terus menghadirkan berbagai kebijakan afirmatif untuk mempercepat transformasi UMKM menjadi industri yang modern, kompetitif, dan memenuhi standar keamanan pangan. Data menunjukkan besarnya kontribusi sektor ini.

Berdasarkan BPS tahun 2024 terdapat sekitar 1,94 juta industri makanan mikro dan kecil, atau sekitar 44 persen dari seluruh industri pengolahan skala mikro dan kecil di Indonesia.

Sementara dalam lima tahun terakhir, lebih dari 12 ribu perusahaan mikro dan kecil telah memiliki produk pangan terdaftar di BPOM, atau sekitar 64 persen dari seluruh perusahaan pemegang registrasi pangan. Selain itu, sekitar 40 persen dari 137 ribu izin edar pangan olahan dimiliki oleh pelaku usaha mikro dan kecil.

Pada sektor Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP), hingga 30 Juni 2026 telah diterbitkan 653.756 Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) kepada 244.715 IRTP, menunjukkan semakin luasnya pelaku usaha yang telah memenuhi standar keamanan pangan.

Taruna Ikrar menegaskan keberpihakan BPOM kepada UMKM diwujudkan melalui berbagai kebijakan, mulai dari penerapan standar produksi secara bertahap, pendampingan regulatori, pembebasan biaya registrasi produk menjadi Rp 0 bagi produsen dalam negeri skala UMK, hingga Program Orang Tua Angkat (OTA) UMKM.

Sejak 2022, BPOM telah mendampingi 4.165 UMK pangan olahan, 1.165 UMKM obat bahan alam, dan 1.314 UMKM kosmetik, serta melibatkan 70 industri sebagai OTA bagi ratusan pelaku UMKM di seluruh Indonesia.

Kolaborasi dengan dunia pendidikan juga terus diperluas. Hingga kini BPOM telah menjalin kerja sama dengan sedikitnya 186 perguruan tinggi.

Melalui Program SAPA SEMESTA, sinergi tersebut diwujudkan dalam pendampingan langsung oleh mahasiswa dan akademisi kepada pelaku UMKM, sekaligus memperkuat hilirisasi riset dan inovasi.

Sepanjang semester pertama tahun 2026, Program SAPA SEMESTA telah menunjukkan hasil awal yang signifikan.

Sebanyak 29 Orang Tua Angkat mendampingi 556 UMK pangan olahan di 33 wilayah Indonesia, 139 mahasiswa dari 37 perguruan tinggi menjadi fasilitator keamanan pangan bagi 126 UMK di 22 wilayah, sementara 182 UMK pangan olahan di 14 wilayah berhasil memperoleh Nomor Izin Edar (NIE) melalui layanan jemput bola BPOM.

Taruna Ikrar menambahkan, Program SAPA SEMESTA menjadi bagian dari dukungan BPOM terhadap Program Kerja Prioritas Nasional, khususnya upaya penurunan kemiskinan melalui peningkatan produktivitas dan kemandirian ekonomi masyarakat.

Menurutnya, keamanan pangan tidak hanya menjadi instrumen perlindungan konsumen, tetapi juga fondasi bagi peningkatan daya saing produk UMKM Indonesia di pasar nasional maupun global.

“Keberhasilan Program SAPA SEMESTA membutuhkan kolaborasi seluruh unsur Academia, Business, dan Government. Dengan sinergi yang semakin kuat, kami optimistis semakin banyak UMKM yang naik kelas, semakin banyak produk pangan Indonesia yang memenuhi standar global, serta semakin besar kontribusi sektor pangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat,” kata Taruna Ikrar.