JAKARTA,UJUNGJARI.COM–Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan mutasi besar-besaran di lingkup TNI belum lama ini. Anton Pallaguna adalah salah satu perwira yang mendapat amanah baru.

Anton yang sebelumnya merupakan Ajudan Presiden Prabowo Subianto kini dipromosi menjadi Perwira Staf Ahli Tingkat II Panglima TNI Bidang Politik, Keamanan, dan Nasional (Polkamnas). Bintangnya pecah. Dari kolonel ke Marsekal Pertama (Marsma). Marsekal Pertama adalah jabatan dengan bintang satu di pundak perwira Angkatan Udara (AU). Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1664/XII/2025, efektif per 15 Desember 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Anton memang tidak seperti kebanyakan tokoh yang kariernya dibangun oleh sorotan kamera. Anton justru membangun karier dari jam terbang, disiplin keras, dan kecakapan berpikir strategis.

Anton adalah lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) angkatan 2000 dari Korps Penerbang Tempur. Sejak awal, pria berdarah Bugis itu memilih jalur paling menantang: mengendalikan pesawat tempur di garis depan pertahanan udara nasional.

Karier terbangnya dimulai di Skadron Udara 3 dengan pesawat F-16. Di sanalah insting tempur dan ketegasannya dibentuk. Ia kemudian dipercaya mengawaki pesawat tempur Sukhoi SU-27/30 di Skadron Udara 11. Jam terbangnya melampaui 1.000 jam—angka yang tidak hanya mencerminkan pengalaman, tetapi juga tingkat kepercayaan institusi.

Alumni Program Doktoral Universitas Hasanuddin Makassar ini juga dikenal sebagai bagian dari Jupiter Aerobatic Team, dengan posisi J-3 Left Wingman. Sebuah peran yang menuntut presisi ekstrem, konsentrasi penuh, dan kepercayaan total antar-pilot. 

Ia bahkan tercatat sebagai pilot pertama TNI AU yang menjajal jet tempur Rafale—sebuah simbol kepercayaan pada kapasitas teknis dan adaptifnya.

Di dunia penerbangan militer, Anton dikenal dengan call sign “Sioux”. Sebuah julukan yang merepresentasikan ketangguhan dan naluri tempur.Baca jugaKisah Sulaiman Al Rajhi, Miliarder yang Menyerahkan Seluruh Kekayaannya Demi Kemanusiaan.

Sebelum menjadi ajudan Presiden Prabowo Subianto, Anton bertugas sebagai Asisten Operasi Kosek IKN. Ia juga pernah mengikuti Pendidikan Reguler LII Sesko TNI tahun 2024. Baginya, penugasan sebagai ajudan Presiden menjadi fase unik karena menghubungkan dunia militer dengan dinamika kebijakan negara di level tertinggi.

Yang menjadi pembeda Anton Pallaguna dari banyak perwira lain adalah kedalaman akademiknya. Ia bukan hanya operator, tetapi juga pemikir.

Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Narotama, Surabaya. Gelar S2 diraih di Air University, Alabama, Amerika Serikat, dalam bidang warfare studies. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di Universitas Hasanuddin, meraih gelar doktor manajemen strategi dengan predikat cum laude dan IPK sempurna 4.00, sekaligus menjadi lulusan terbaik fakultas.

Tak berhenti di sana, Anton juga merampungkan dua program magister lain: Strategi Pertahanan di Universitas Pertahanan dan Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Kristen Indonesia. Ia melengkapi kompetensinya dengan sertifikasi internasional di bidang strategi bisnis dan manajemen SDM.

Deretan pendidikan militernya pun lengkap: Sekolah Komando dan Kesatuan (2012), USA Air Command and Staff College (2014), hingga Sesko TNI (2024). Gelarnya mencerminkan perjalanan itu: Dr. Anton Pallaguna, S.E., M.M., M.Han., M.M.O.A.S., CSBA., CHRA.Baca jugaMenyiapkan Guru Peduli Lingkungan, Unkhair Ajarkan Biologi di Habitat Burung Danau Tolire.

Promosi menjadi Marsekal Pertama TNI bukan sekadar kenaikan pangkat. Jabatan barunya sebagai Pati Sahli Panglima TNI Bidang Polkamnas menempatkan Anton di ruang strategis perumusan kebijakan pertahanan dan keamanan nasional.

Di sinilah kombinasi unik itu diuji: pengalaman tempur, kecakapan manajerial, dan ketajaman analisis. Ia tidak lagi sekadar mengendalikan pesawat, tetapi turut memberi arah pada kebijakan yang berdampak luas bagi negara. (bs)